BAB I
PENDAHULUAN
- Latarbelakang
Al Qur'an merupakan salah satu dari beberapa kitab Allah yang diturunkan dan diberikan kepada para Rasulnya. Al Qur'an adalah kitab Allah yang diturunkan Allah kepada Rasulnya yaitu Muhammad Bin Abu Tholib sebagai imam, tuntunan dalam mengarungi kehidupan di alam dunia ini, baik dari prinsip hukum maupun prinsip beribadah kepada Allah Swt. Sebagai prinsip dasar, rujukan segala-galanya, tentu merupakan sikap yang tidak benar bila ada seseorang yang mengaku beragama islam namun ia enggan membaca, memahami, dan atau mengambil sebagian sumber rujukan dan pegangan dalam kehidupannya.
Sebagai orang islam, tentulah dia harus memahami isi yang terkandung di dalamnya, dengan selalu membaca dan mempelajarinya. Sebagai seorang islam, tentulah ia harus menjaga, menghormati, memulyakan, dan melindungi kehormatannya. Selain itu, ia harus membawa dengan penuh ta'dzim. Ia harus membacanya dengan penuh ta'dzim, tatakrama, penuh adab baik secar dlohir maupun secara bathin dan menempatkan pada tempat yang terhormat.
Dengan berlatar belakang di atas maka kami akan ketengahkan beberapa pendapat yang berkaitan dengan masalah sebagai kontribusi dalam ranah keilmuan. Yang dimaksud kami uraikan dengan rumusan sebagai berikut.
- Rumusan masalah
- Bagaimana pengertian Dirasah Al Qur'an?
- Bagaimana pengertian Hifdzu Al Qur'an?
- Bagaimana pengertian tartil dalam membaca Al Qur'an?
- Bagaimana Kriteria Lahn yang dilarang dalam bacaan Al Qur'an?
- Keutamaan membaca Al Qur'an
- Bagaimana adab tilawah Al Qur'an?
BAB II
PEMBAHASAN
- Pengertian dirosah Al Qur'an
Kata dirosah berasal dari madhi darosa yang berarti belajar. Maka pastilah dirosah Al Qur'an diartikan mempelajari Al Qur'an, baik secara individu atau bersama-sama.
Kita sebagai umat islam diwajibkan untuk mempelajari Al Qur'an. Dari Utsman bin Affan ra, katanya: Rasulullah Saw bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari)
سنن ابن ماجة ـ محقق ومشكول - (1 / 146)
- حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ خَلَفٍ أَبُو بِشْرٍ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ بُدَيْلٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ : إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ , قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ : هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ ، أَهْلُ اللهِ وَخَاصَّتُهُ.
Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai 2 ahli diantara manusia”. Sahabat bertanya, ”Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Ahli Al-Qur’an adalah ahli Allah, dan orang-Nya khusus.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).[1]
Umat islam memang diwajibkan untuk mempelajari Al Qur'an, tetapi tidak diharuskan langsung bisa dan mahir. Sebagaimana hadits dari Aisyah ra, katanya: Nabi Saw bersabda: “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih). Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.
- Pengertian Hifdzu al Qur'an
Dalam permasalahan ini, Hifdzu al Qur'an mempunyai dua pengertian. Yang pertama, memelihara dengan cara menghafal. Pengertian ini berlandasan riwayat yang diriwayatkan imam Muslim, bahwasanya ketika mula-mula Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah membawa dan membacakan wahyu, Rasulullah langsung mengikuti bacaan dari malaikat Jibril dengan disertai gerakan kedua bibirnya. Hal itu dilakukan karena Rasulullah hawatir wahyu yang diterima tidak terhafalkan dengan baik dan menyeluruh. Tapi hal itu justru menyebabkan turunnya ayat
لا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ. إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
"Jangan gerakkan lisanmu karena terburu-buru untuk menghafalnya. Saya telah menjaganya, dan saya akan membacakannya. Jika telah saya bacakan maka ikutilah bacaannya."
Baru setelah ayat ini turun sebagai teguran kepada Rasul, ketika malikat datang membawa wahyu, Rasul diam tidak mengikuti, baru setelah malikat Jibril meningalkannya, Rasul membacakan dan menyampaikan kepada shahabat-shahabatnya.[2]
Kedua, yaitu menjaga al Qur'an dengan cara mencatat secara keseluruhan, dan mengklasifikasi antara ayat dan surah. Pemeliharaan semacam ini, mencakup pengertian penertiban ayat saja (diurutkan berdasarkan ayat saja) atau diurutkan berdasarkan ayat-ayat dan surah dalam beberapa mushaf terkumpul jadi satu.[3]
Penjagaan al qur’an dengan cara ditulis sudah ada sejak zaman rasulullah tetapi penjagaan dengan cara ini kurang popular pada masa itu yang mencatat dan menulis al qur’an hanya beberapa sahabat karena pada masa itu budaya tulisan kurang berkembang dan yang bisa baca tulis hanya beberapa sahabat saja.
- Pengertian Tartil dalam Membaca al Qur'an
Allah SWT menurunkan al Qur’an lengkap dengan cara dan metode dalam membacanya, dalam al Qur’an suroh al Muzammil diterangkan : وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً
"Bacalah al Qur’an dengan bacaan yang tartil"
Yang dimaksud tartil disini adalah membaca dengan tuma’ninah serta meresapi kandungannya dan tidak terlepas dari memperhatikan tata cara bacanya (tajwidnya).
Pada ayat tersebut diatas Allah SWT menyebut dua kali kalimat tartil, yaitu pertama dengan memakai kalimat amr (perintah), redaksi dengan kalimat amr, mengandung arti “wajib dipenuhi” seperti dalam qoidah “al amru lilwujub”, apalagi dalam ayat tersebut disertai dengan kalimat “masdar” yang faedahnya “littaukid”, dari sini kami mempunyai kefahaman hukum wajib membaca al Qur’an dengan tartil.
Pada ayat lain diterangkan :
{وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِ
Pada al Qur’an kami telah jelaskan untuk dibacakan terhadap umat manusia dengan( cara) pelan-pelan dan kami turunkan dengan (cara) sedikit demi sedikit(sesuai kemaslahatan umat)
Sebagian shahabat membaca dengan pakai tasydid, dan berarti memisahkan, artinya : Al Qur’an diturunkan secara terpisah-pisah sesuai kejadian asbabul nuzulnya, sampai 23 tahun.
Adanya al Qur’an diturunkan dengan cara diseuaikan dengan kejadian (asbabul nuzulnya) dan dibacakan dengan pelan-pelan karena dengan demikian akan lebih mudah untuk difaham dan lebih mudah untuk dihafal. Nah, membaca al Qur’an yang sesuai dengan tuntutan diatas itu tidak akan terpenuhi kecuali dengan menjaga, memperhatikan dan memperaktekkan tajwid, cara baca yang warid dari Rosulillah SAW.
- Gejala lahn yang dilarang dalam membaca Al Qur'an
Lahn (لحْن) tinjauan dari etimologisnya adalah masdar dari لَحَنَ yang berarti "salah bacaan" . berarti yang dimaksud di sini adalah kesalahan dalam membaca al Qur'an. Tapi yang dimaksud lahn dalam pembahasan ini bukan hanya sebatas pengertian secara lughotnya saja, lebih dari itu, yaitu lahn atau bacaan al Qur'an tidak sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa arab yang telah ditetapkan oleh ulama. [4]
Ada beberapa kemungknan yang terkait dengan permasalahan lahn. Pertama, menyebabkan berubahnya ma'na atau tidak?. Yang kedua, disengaja atau tidak? Jika menyebabkan berubahnya ma'na, maka termasuk lahn yang dilarang. Sebagaimana lahn (menganti) harokat fathanya ta' domir kalimat أنعمتَ (dalam surah al fatihah) dengan harokat dommah atau kasroh. Bahkan kalau lahn-nya itu ada unsur kesengajaan, hukumya haram, sholatnya batal kalau terjadi ketika sholat. Tapi jika tidak menyebabkan berubahnya ma'na, maka hukumnya makruh. Tapi jika disengaja maka hukumya juga haram.[5] Sebagaimana lahn dalam membaca kalimat نعبد (dalam surah fatihah) dengan membaca fathah hurul dal
Jadi lahn yang dilarang disini adalah lahn yang dapat menyebabkan berubahnya ma'na dan ada unsur sengaja.
Ibnu Abbas berkata :
من لحن في القرآن فقد كذب على الله، ومن لحن في حديثه - صلى الله عليه وسلم - فقد كذب عليه؛ لأنه - صلى الله عليه وسلم - لم يكن يلحن
"Barang siapa yang lahn dalam baca al Qur'an maka ia telah berbohong kepada Allah SWT. Dan barang siapa yang lahn dalam hadits maka ia telah berbohong kapada Rasulullah SAW. Karena Rasulullah tidak pernah lahn."
Shahabat Umar ra. juga menghimbau dengan catatannya sebagai berikut.
أن تعلموا الفرائض، والسنة، واللحن، كما تعلمون القرآن.
"Selayaknya kalian belajar perkara fardhu, sunnah, dan lahn sebagaimana kalian belajar al Qur'an"[6]
- Keutamaan membaca Al Qur’an
Banyak sekali keutamaan dari al Qur'an, di bawah ini beberapa hadits yang menerangkan tentang keutamaan al Qur'an.
وقال صلى الله عليه و سلم ما من شفيع أفضل منزلةً عند الله تعالى من القرآن لا نبيٌ ولا ملكٌ ولا غيره : رواه عبد الملك بن حبيب من رواية سعيد بن سليم مرسلا
Artinya : “Tidak ada dari sesuatu yang dapat memberikan syafa’at yang lebih utama kedudukannya disisi Allah SWT dari pada Al Qur’an, baik itu Nabi ataupun Malaikat dan lain-lainnya.”
وعنه ( صلى الله عليه وسلم ) أفضل عبادة أمتي القرآن ، وعنه ( صلى الله عليه وسلم ) أنه قال : أشرف أمتي حملة القر“Paling utamanya ibadah yang dilakukan ummatku adalah membaca al Qur’an.”
“Paling mulyanya ummatku adalah orang yang membawa al Qur’an.”
وعنه ( صلى الله عليه وسلم ) أنه قال : إن أصغر البيوت بيت ِصفْرٌ من كتاب الله تعالى
“Paling kecilnya rumah adalah rumah yang kosong dari kitabnya Allah SWT.”
Hadits-hadits diatas yang menerangkan tentang kemulyaan al Qur’an, semuanya memakai kalimat tafdil , hal itu menunjukkan bahwa al Qur’an adalah barang yang termulya dari pada lainnya. Sampai-sampai disitu al Qur’an dijadikan sebagai barometer besar kecilnya sebuah rumah.
وقال صلى الله عليه و سلم إن القلوب تَصْدَأ كما يصدأ الحديد فقيل يا رسول الله وما جلاؤها فقال تلاوة القرآن وذكر الموت
Sabda Rosululloh SAW. “ Hati itu bisa karatan sebagaimana Besi." Lalu Shahabat bertanya, “ Wahai Rosululloh, bagaimana cara membersihkannya? Rosul menjawab, “ Dengan membaca al Qur’an dan mengingat akan mati.”
Shahabat Abu Huroiroh mengatakan, “ Rumah yang didalamnya dibacakan Al Qur’an, maka dia akan merasa bahagia dengan keluarganya dan akan mendapatkan banyak kebaikan, malaikat akan hadir ke rumah tersebut serta Syaiton akan keluar dari rumah itu. Dan sebaliknya, rumah yang tidak dibacakan al Qur’an didalamnya, maka dia tidak akan merasa bahagia dengan keluarganya, malaikat akan keluar dari rumah itu sedangkan syaiton akan masuk ke rumah tersebut.”
Imam Ahmad Bin Hambal bermimpi melihat Alloh SWT. Lalu dia bertanya, “ Perbuatan apa yang lebih utama yang dilakukan oleh orang-orang yang telah dapat dekat disisiMu?" Alloh menjawab, “ Dengan kalamku wahai Ahmad.” Kemudian Imam Ahmad bertanya lagi, ” Yaa Rob, harus faham dengan yang dibaca atau tidak?" Alloh menjawab, ” Dengan faham ataupun tidak faham.”[7]
- Adab Tilawah al Qur’an
Al Imam Ghozali mengklasifikasi adab membaca al Qur’an itu ada dua, adab Dzohir dan Adab Bathin
- Adab membaca al Qur’an dari segi dzohir ada sepuluh
Yang pertama, adalah berkaitan dengan keberadaan yang baca, yaitu pembaca seyogyanya dalam keadaan punya wudhu’, dengan posisi yang penuh tatakrama kesopanan, baik berdiri maupu duduk, menghadap kiblat, posisi membaca sendirian sama dengan posisi ketika membaca dihadapan orang lain (walupun gurunya)
Yang kedua, adalah yang berkaitan dengan ukuran. Kadar banyak ataupun sedikitnya membaca. Mungkin dalam sehari bisa menghatamkan, atau dalam tempo dua hari dan sebagainya. Seperti yang dilakukan shahabt Utsman, Zaid Bin Tsabit, dan Ibnu Mas’ud dan mungkin masih ada lainnya. Mereka menghatamkan dalam tempo satu minggu satu kali.
Yang ketiga, adalah yang berkaitan dengan hal membaginya. Hal ini mungkin bagi yang menghatamkan dalam tempo satu minggu, dalam sehari semalam bisa membaca empat juz, dan sebagainya. Seperti yang dilakukan shahabat Utsman, beliau membaca al Qur’an pada malam jum’at, dari surah al Baqoroh sampai al Maidah, malam sabtu dari surah al An’am sampai surah Hud, dan sebagainya
Yang keempat, adalah yang berkaitan dengan hal penulisannya. Yaitu disunnahkan menulis al Qur’an dengan tulisan yang bagus dan indah.
Yang kelima, adalah yang berkaitan dengan ketartilannya. Dan memang membaca dengan tartil itulah yang disunnahkan, karena diantara tujuan membaca al Qur’an adalah tafakkur dan tartil.
Yang keenam, adalah menangis. Membaca al Qur’an sambil menangis, timbul karena menghayati isi dan kandungan al Qur’an. Membaca al qur’an sambil menangis erat kaitannya dengan gejala lahn karena ketika membaca al qur’an sering bacaan kita tidak fasih kadang sering tersendat-sendat dan dapat mengakibatkan lahn yang terlarang tetap saja terdapat kesunahan bersedih ketika membaca al qur’an kesunahan tersebut erat kaitannya dengan penghayatan tentang isi kandungan dari al qur’an itu sendiri.
Yang ketujuh, adalah menjaga hak-haknya ayat. Seperti ketika membaca ataupun mendengar ayat sajadah, maka sujud sajadah
Yang kedelapan, mengawali bacaan, dengan bacaan ta’awwudz
Yang kesembilan, membacanya dengan suara keras, minimal dapat didengar oleh pendengarannya sendiri
Yang kesepuluh, memperbaiki bacaan dan dengan bacaan tartil , seperti mengulang ulang bacaan sekiranya tidak berlebihan
- Adab membaca al Qur’an dari segi Bathin
Yang pertama, memahami agung dan luhurnya kalam Allah,
Yang kedua, mengagungkan mutakallimnya (Allah SWT), pembaca al Qur’an dalam permulan bacaannya seyogyanya menghadirkan dalam hati akan keagungan Allah SWT dan meyakini bahwa apa yang akan dibaca itu bukan kalam manusia.
Yang ketiga, Menbaca dengan hati yang hadir (khusyu’ dan bersungguh)
Yang keempat, Tadabbur (menghayati) akan bacaannya
Yang kelima, Tafahhun (memahami) dari setiap ayat yang dibaca
Yang keenam, menghilangkan dari hal-hal yang dapat menghalangi untuk memahami ayat-ayat al Qur’an
Yang ketujuh, Attakhshis, maksudnya, yaitu memastikan bahwa apa yang dibaca itulah yang dimaksud dengan khitob dalam al Qur’an. Seperti ketika membaca ayat yang menerangkan perintah, larangan, dan sebagainya, itulah memang yang dikehendaki
Yang kedelapan, Ta-atstsur, maksudnya, dari apa yang dibaca dapat berbekas dan berpengaruh dihatinya
Yang kesembilan, At Taroqqy, maksudnya, ketika membaca hatinya dapat naik seakan-akan mendengar kalamnya Allah
Yang kesepuluh, At Tabarry, maksudnya, dirinya merasa tidak bisa apa-apa, Ia ridho dengan keberadaan dirinya.
Namun dalam keterangan lain…
Adab membaca al Qur’an:[8]
a. Menghadap kearah kiblat dengan kadar kemampuannya
b. Bersiwak dengan tujuan mensucikan dan mengagungkan terhadap al Qur’an
c. Dalam keadaan suci dari dua macam Hadats
d. Dengan badan dan pakaian yang bersih
e. Membaca dengan khusyu’ serta meresapi dan menghayati kandungan artinya
f. Dengan hati yang hadir, sehingga dapat merasakan dengan apa yang dibaca, dan dapat menjaga nafsunya
g. Membaca sambil menangis
و عن سعد بن أبي وقّاص - رضي الله عنه - قال: سمعت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يقول:« إنَّ هذا القُرآنَ نزل بحُزن ، فاذا قرأتموه ، فابكوا، فان لم تبكوا، فتباكوا، وتغنوا ، فمن لم يتغن به ، فليس منا » (ابن ماجة: إقاMenghiasi dan memperbaiki bacaannya
h. Tidak tertawa, main-main, dan tidak boleh melihat terhadap apa-apa yang dapat melalaikan.
Sebagaimana keterangan dalam al Qur’an
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَاب“Kami telah turunkan padamu(wahai Muhamad) sebuah kitab yang penuh berkah,supaya orang-orang yang punya akal sempurna dapat meresapi ayat-ayatnya.”
Adab membaca al Qur’an bukan hanya pada pembaca saja khitobnya, bahkan pendengarpun harus menghadapkan hatinya pada bacaan ayat-ayat yang sedang dibaca dengan hati yang khusyu’ dan meresapi kandungan artinya, serta mengambil pelajaran dengan apa yang dibaca, baik yang berupa hukum-hukum maupun nasihat-nasihatnya, juga hendaknya mendengarkan dengan seksama terhadap apa-apa yang dibaca sampai pembacaan selesai. Sebagaimana keterangan dalam al Qur’an
قال تعالى: {وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ}Apabila al
Qur’an dibacakan maka dengarkanlah, perhatikanlah dengan seksama, kau pasti akan mendapatkan rahmat dari Allah SWT.
BAB III
PENUTUP
Setelah kita mengetahui betapa banyak keutamaan membaca Al Quran, maka mulai hari ini, mari kita perbanyak membaca Al Quran. Dan bila ada dari kita yang mungkin masih belum lancar membaca Al Quran , jangan patah semangat. Sebagaimana hadits,
Dari Aisyah ra, katanya: Nabi Saw bersabda: “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih). Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.
Teruslah membacanya, karena Al Quran yang yang kita baca, akan menemui kita dihari kiamat kelak. (HR Ahmad).
Selain itu Al Quran yang kita baca, akan memberikan syafaat untuk kita. Sebagaimana hadits,
Sabda Rasulullah Saw: “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa ‘at bagi pembacanya.” (HR. Muslim dari Abu Umamah).
DAFTAR PUSTAKA
Sayyid Muhammad bin Alwi, Qowa'id al Asasiyah fi Ulum al Qur'an, Surabaya.
Al Qotthon, Manna' fi ulum al Qur'an (Mansyurot al A'shr al hadits)1990.
Ghoyatul Murid Fi Ilmi Tajwid
Al Ghozal “ Ihya ululmuddin” Sby
Muhammad al Misri, Arsyif multaqy ahli tafsir (maktabah syamilah)
Yusuf 'Al yuwy, Atsar al Qur'an (maktabah syamilah)
Abu Abdillah al Qurtuby, Al Jami' lilahkam al Qur'an (Maktabal Madinah-maktabah syamilah)
www.pk-sejahtera.org.uk/index.php?option=com.
agama.kompasiana.com/
pertanyaan pertama tentang dilarangnya tahzin dan hubungannya dengan menangis
sinkronisasi dalam sub b
pengertian dirosah al quran tentang orang2 yang husus
Tambahan dari dosen
Makalah ini minim konflik.
1, hubungan antara
[1] Sunan ibnu majjah, Muhakkikul Mashhul, software maktabah al syamilah
[2] Abu Abdillah al Qurtuby, Al Jami' lilahkam al Qur'an (Maktabal Madinah-maktabah syamilah)
[3] Manna'u al Qotthon, Fi ulum al Qur'an (Mansyurot al Ashrul hadits)
[4] Muhammad alwi almaliki, Al Qowaid al Asasiyah fi ulum al Qur'an (Al Haramai, Surabaya)
[5] Muhammad al Misri, Arsyif multaqy ahli tafsir (maktabah syamilah)
[6] Yusuf 'Al yuwy, Atsar al Qur'an (maktabah syamilah)
[7] Al Ghozal “ Ihya ululmuddin” Sby
[8] Ghoyatul Murid Fi Ilmi Tajwid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar