Jalan itu
Luka itu
kembali teringat ketika aku melewatinya meski berharap sudah berakhir dan
anggap hanya putaran nasib tapi bisakah itu terlewati semudah itu? Sakit, pedih
dan rasa tersakitiku? Yang buat semuanya berubah jadikan diri yang ceria hilang
sudah berganti senyum tanpa rasa bahagia.
“nai kamu harus
pulang sayang!”pinta ibuku ketika aku menghubunginya melalui telfon
“iya ma, nai
akan pulang begitu desertasi nai selesai”
“nai” ucap
ibuku menyiratkan kesedihan
“kamu belum
bisa melupakannya?”
“maafkan nai
ma”
“pulanglah
ketika kau sudah selesai disertasi”akhirnya ibuku memecah kesunyian diantara
kami sebelum beliau meletakkan telfonnya sedangkan aku masih memegang ponselku
sambil memandangi jalan raya didepan apartemenku keadaan di sini sangat berbeda
dengan Indonesia.
“nairwana, aku
ingin mempersuntingmu segera”ucap galih ketika ia berkunjung ke rumahku setelah
kesekian kalinya tidak kuhiraukan.
“tapi mas
bukannya kamu akan pergi ke berlin?”
“iya nai, aku
akan pergi ke berlin dengan dua kemungkinan, denganmu atau pergi untuk
melupakanmu”
“nai belum bisa
jawab mas”ucapku tidak bisa memberikan jawaban atas permintaannya yang sangat
tidak kuduga.
“jawablah
ketika kau sudah yakin nai, jangan lupa sholat istikhoroh”
“iya mas semoga
dapat yang terbaik”
Setelah
berfikir dengan masak dan mendapat keyakinan atas apa yang akan kuambil,
kuterima pinangan mas galih. Orang tua kami bertemu dan bersepakat tentang
pernikahan kami mas galih resmi telah mengkhitbahku. Dan kami akan menikah
seusai aku diwisuda baru kemudian berangkat ke berlin dengannya, sehingga aku
belajar sangat keras agar bisa mendapat beasiswa juga ke berlin.
“nai, kamu
tidak usah memforsir diri dengan belajar begitu keras beasiswa hanya salah satu
cara, mas tetap bisa membiyayai kuliahmu meski kamu tidak mendapat biasiswa”
“mas galih, nai
tahu mas mampu, nai hanya ingin pantas berada disamping mas galih kalau mas
pintar masa’ nai harus santai-santai dan mengagap udah cukup?”ucapku ketika ia
mengingatkanku untuk tidak memforsir diri melalui telfon.
Pertemuan kami
terjadi ketika ia kerumahku bersama mas reza mereka teman SMU dulu dan berpisah
ketika kuliah kebetulan kakakku kuliah di jogja sedangkan ia di Jakarta, meski
berpisah mereka sangat akrab bahkan sudah dianggap anak oleh mama. Aku lulus
SMU dan tinggal di kos sehingga jarang pulang selain sibuk kuliah aku juga
mengajar prifat anak SD untuk meringankan beban ayah.
“assalamualaikum
ma” ucapku sambil mengetuk pintu
“waalaikum
salam”ucap seseorang dari dalam rumah disusul dengan terbukanya pintu rumah
oleh seorang. Langsung saja aku masuk dan mencari-cari mama didapur tanpa
menghiraukan orang yang membuka pintu untukku karena kupikir aku sudah
berterima kasih tadi saat masuk rumah.
“assalamualaikum
maaaa” ucapku sambil mencium tangan sambil melihat isi dapur dan merengut
melihat makanan kesukaanku tidak ada.
“sana cuci kaki
kamu baru pulang sudah mencari-cari makanan”
Tanpa membantah
aku berganti baju dan mencuci kaki baru kemudian ke ruang makan disana sudah
ada mas reza, mama dan seseorang yang langsung kutebak sebagai teman mas reza
karena seumuran dan lagi kalau saudara mana mungkin aku tidak mengenalnya, but
what my problem??? Dia teman mas reza kok.
Seusai makan
mas reza memperkenalkan kami namanya galih dan bla..bla… yang aku jawab hanya
dengan senyuman baru kemudian meninggalkan mereka yang asik ngobrol sedangkan
aku ngacir ke dapur ternyata mama tidak memasakkan makanan specialku tapi
beliau membuatkanku roti spons faforitku “I love my mom you are the best”
Sejak saat itu
aku serig dicekoki dengan pertanyaan dan pernyataan mengenai temannya yang
bernama galih semua kelebihan dan kekurangannya hingga membuatku sebal.
“mas kamu ini
niat ngejodohin aku sama mas galih temanmu yaa??? Tanyaku dengan nada sebal
yang kutahan. Bukannya ia menjawab ia malah balik bertanya:
“kamu tidak
punya cowok khan???”
“ihhhhhh maz
khan tahu nai belum ingin memikirkan cinta ntar juga datang sendiri”ucapku
sambil menimpuknya dengan bantal kursi.
“maka dari itu,
galih baik kok dia pasti bisa ngebahagiain kamu dan ngejaga kamu”
“kalau mas reza
tetap bersikeras, aku akan memasang tampang jutek ke mas galih kalau ia
kesini…..”dan belum sempat aku selesai berbicara mas reza membukakan pintu dan
benar mas galih yang datang. Huh sebel orang yang dari tadi dibahas ternyata
muncul mending aku ke kamar aja dech inisiatifku sebelum mas reza menyadari
kepergianku ternyata dugaanku meleset.
“nai kalau mau
ke kamar buatin minum dulu yaaa buat galih”ucap mas reza sambil tersenyum
kearahku yang ingin kubalas dengan menimpuknya dengan bantal.
***
Aku tersenyum
sendiri mengingat kejadian lucu antara aku, mas galih, dan mas reza, beriringan
dengan senyum itu tak terasa ai mataku menetes mengingat mas galih…
Seusai aku menerima
khitbahnya dan aku meraih keinginanku untuk mendapat biasiswa ke berlin atau
swiss untuk melanjutkan S2 dan pilihanku jatuh ke berlin bersama mas galih. Ia
membantuku mengurus visa pelajar, mengantarku ketika mas reza sibuk dengan
urusannya, bahkan menemaniku berbelanja dan mengurusi undangan pernikahan kami
karena seminggu setelah menikah kami akan langsung terbang ke Negara hitler.
***
Semuanya
berjalan sebaliknya ketika badai itu datang. Tiba-tiba saja datang seorang
wanita kerumahku ketika kami sedang melakukan persiapan untuk menyambut
perkawinan kami, namanya sesilia ia adalah mantan tunangan mas galih yang
dianggap meninggal karena kecelakaan dan secara tiba-tiba juga ia mengatakan
bahwa mas galih tidak akan menikah denganku.
“maksud mba lia
apa?”
“iya secara aku
masih tunangan mas galih jadi aku yang akan menikah dengannya”
“iya kalau mba
lia mengatakannya dari dulu sebelum mas galih mengkhitbahku? Dan mana mungkin
pernikahan ini dibatalkan sedangkan semuanya sudah selesai? Mbak lia jangan
bercanda, ijab kabulnya bulan depan mba’”.ucapku tidak habis fikir denga
sesosok wanita didepanku.
“jika galih
menikahimu maka keluarganya akan sengsara”
“apa maksud
perkataan mba lia?”ucapku meminta penjelasan yang hanya dijawab olehnya dengan
kepergiannya meninggalkan rumahku.
Benar ucapannya
keluarganya memutuskan untuk membatalkan pernikahan kami bahkan membayar semua
kerugian yang kami tanggung, mas reza sangat kecewa dengan mas galih sedangkan
aku???
Dijalan itu
dibawah pohon cemara kami bertemu aku ingin mendengar penjelasannya mengapa ia
setuju membatalkan pernikahan yang hanya tinggal satu bulan lagi ternyata…….
“maafkan aku
nai, aku bersalah melukai reza, keluargamu terlebih lagi kamu”
“aku g’ butuh
ucapan maaf mas! Aku Cuma ingin penjelasan dan aku akan segera pergi setelah
mendengarnya”
ia menceritakan
tentang kecelakaan tunangannya yang membuatnya sedih dan sakit, setelah
beberapa lama akhirnya ia bangkit dan kembali bersemangat lagi ketika itu ia
bertemu denganku dan merasa aku seperti tunangannya mba’ lia meski wajah kami
berlainan tapi entah mengapa ia mengagapku dapat menggantikan mba lia.
Kutahan air
mataku dan berlari meninggalkannya menyampaikan rasa sedihku pada pantai selama
semalam sehingga membuat mas reza kebingungan aku pulang pagi dengan wajah
masih merasa sedih dan jatuh sakit.
“maafkan mas
reza yaa nai, kalau bukan gara-gara mas mungkin kamu g’ bakal sedih seperti
ini” ucap mas reza sambil menagis memegang tanganku.
“sudahlah mas,
nai g papa kok, nai Cuma shok sebentar doain aja agar nai cepet sembuh”
Setelah
kesembuhanku ternyata mas reza sudah mengurus semua masalah kepergianku ke
berlin yang ia ganti dengan swiss karena tidak ingin membuatku teringat mas
galih. Hingga saat ini meski sudah berlalu aku belum bisa pulang meski
sebenarnya disertasiku sudah selesai minggu lalu hanya tinggal menerima ijazah.
“naiii, kamu
harus pulang dek!”ucap mas reza ditelfonku
“iya mas nai
akan pulang, tapi tidak sekarang” ucapku menguatkan diri karena selain terluka
aku juga merindukan keluargaku.
“de’ sampai
kapan kamu akan terus disana? Mas minggu depan mau menikah, apa kamu tidak mau
menyaksikannya?”ucap mas reza dengan suara sedih yang tidak sanggup
disembunyikannya aku terisak mendengarnya.
“baik mas nai
pulang, nai pulang”ucapku akhirnya masih denga suara terisak
“terima kasih
nai, kamu mau pulang mas, mama, ayah dan semuanya disini merindukanmu” ucap mas
reza dengan bahagia mersi kutahu ia
disana juga menangis.
***
Setelah semua
persiapanku selesai aku melangkahkan kakiku memasuki bandara internasional ini
kubawa sedikit oleh-oleh untuk keluargaku terutama mama, ayah, mas reza dan
calon istrinya. Setelah perjalanan panjang dan melelahkan akhirnya aku tiba di
Indonesia setelah sekian tahun aku meninggalkannya untuk belajar dan
menyembuhkan lukaku, kunaiki taksi yang akan membawaku menuju rumah yang sudah
lama tidak kulihat dan tentu saja melewati jalan itu dibawah pohon pinus itu
dapat kulihat bayanganku disana meminta mas galih memberikan penjelasan yang
sangat menyakiti hatiku, meski sedih aku tak menangis aku harus bisa tegar dan
berjalan lagi aku akan bertemu dengan orang-orang yang kurindukan dan pantang
untuk bersedih.
Taksi yang
membawaku berhenti di depan sebuah rumah yang meski agak berbeda dengan saat
aku pergi dapat kukenali itu rumahku dan lucunya karena ini menjelang
pernikahan mas reza aku jadi teringat dengan peristiwa yang menyakitkan itu.
***
Meski taksi
sudah pergi tapi aku masih belum melangkahkan kakiku mendekati rumahku dan karena
penampilanku juga agak berubah tetap berkerudung hanya saja aku memakai kaca
mata hitam yang membuatku sulit dikenali meski oleh para tetanggaku sendiri
yang mondar-mandir masuk rumah.
Dengan penuh tekat kuberanikan diri masuk ke
halaman yang telah berhiaskan aneka hiasan dan tulisan selamat datang mohon doa
restu.
“assalamualaikum”
ucapku didepan pintu yang meski telah terbuka aku tidak langsung masuk sebelum
ada yang menjawab salamku.
“waalaikum
salam”ucap mama yang menyambutku dengan tersenyum menganggapku tamu kak reza.
Tanpa dapat kutahan aku menangis dan memeluknya.
“maa…, nai
pulang ma” ucapku sambil terus terisak dipelukannya. Ditegakkannya badanku dan
dilepaskannya kaca mata hitamku.
“naii,,, terima
kasih sayang kamu telah pulang, ayah…., reza …., nai pulang!!!! Ucap mama
sambil berteriak memanggil masih dengan menangis. Mereka datang dan
memandangiku seolah tidak percaya didepannya adalah aku.
“maafin nai
ayah, mas reza” ucapku sambil memeluk mereka berdua
“kami rindu
kamu nai” ucap mas reza memelukku sangat erat, setelah selesai berpelukan aku
menyalami tetangga dan sanak saudara yang hadir untuk membantu keluargaku
menyiapkan pernikahan mas reza.
Aku
beristirahat dikamarku yang tetap sama seperti saat aku tinggalkan. Mama, kak
reza, ayah. Memaksaku untuk beristirahat meski aku ingin membantu mereka.
“tidak kamu
harus beristirahat perjalanan dari bandara kemari jauh apalagi didalam pesawat
selama berjam-jam”ucap mas reza tegas
***
Saat resepsi
mas reza aku sempat bertemu muka secara tidak sengaja dengan mas galih dan mba’
lia, meski sakit dan pedih aku paksakan untuk tersenyum karena aku tahu mereka
bahagia meski aku tersakiti mas reza menggengam tanganku untuk memberiku
kekuatan dan support.
Sekarang mas
reza sedang ke bali untuk berbulan madu, sedangkan aku tetap dirumah dengan
segala introgasi mama dan ayah mengenai calon suamiku.
masih dengan
jawaban yang sama ketika aku ditanya mengenai calon suami ditelfon oleh mama
dan ayah “belum ada ma…, yah…”
“apa perlu ayah
carikan pemuda yang cocok denganmu? Tanya mama gemas melihat aksiku yang hanya
menjawab dengan tersenyum geli.
“kamu itu sudah
S2 apa lagi yang kamu kejar kalau bukan menikah nai?”Tanya mama
“tenang saja
ma, nai akan menikah tapi bukan tahun ini. Doain nai saja yaaa”pintaku pada
kedua orang tuaku.
***
Aku melangkahkan kaki melewati jalan itu
sebelum meninggalkan Indonesia besok dan berhenti tepat ditempat itu ketika
kulihat seseorang yang menungguku disana. Mas galih…
“apa kabarmu
nai?”
“baik mas, mas
sendiri bagaimana?mba lia?”
“kami baik nai”
“mas nunggu nai
disini? Untuk apa?”
“untuk minta
maaf nai, mas sudah sangat menyakiti kamu”
“sudahlah mas
nai tidak ingin mengingatnya, nai ingin melangkah kedepan besok nai akan
kembali ke swiss, titip salam buat mba lia yaa” ucapku sambil berjalan tenang
meski meneteskan air mata dan merasa
siap untuk berjalan kedepan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar